728x90 AdSpace

Arsip BSC
  • Berita Terbaru

    Puisi dari seorang Bandoengers (1926)....!!!

    Puisi dari seorang Bandoengers (1926)....!!!

    BANDOENG
    Voor het laatst zie ik de kanariebomen,
    de Preangerbergen als wachttorens staan.
    Fiets ik langs de Papandajanlaan
    of ik hier ooit terug zal komen?

    Bandoeng, m’n gedachten schromen
    Bogerijen, Braga, Bosscha sterrewacht.
    Sprankelsterren in omfloerste tropennacht.
    Kembang sepatoe, melati, die een pad omzomen.

    Bandoeng, koele bergstad van m’n jonge jaren,
    ‘t Centrum, Dago, Lembang, Tjihampelas,
    ‘t Brorromeus- en Julianaziekenhuis- waar menigeen genas.
    De Sint Berchmanschool, ‘t Christelijk Lyceum waasr ik kennis mocht vergaren.

    Bandoeng, waar je in fantasieën weg kunt dromen
    Radio City, Varia, Luxor, Majestic, Oriëntal,
    Tjibeuning-plantsoen, Tjioemboeloeit’s: “Berg en Dal”.
    Villa Isola een krantenkoning’s onderkomen.

    Bandoeng, waar ik zo fortuinlijk heb mogen ervaren,
    Savoy Homann, Grand Hotel Preanger, Pasar Baroe, Gedong Saté.
    Excursies naar meren en kraters, ondernemingen van kina, rubber en thee.
    Voor goed zal ik de herinneringen in mijn leven bewaren.

    Bandoeng fraai getooid met flamboyant, waringin, koningspalmen.
    Insulinde-, Molukken-,Pieters-park, Oranje-, Tjitaroemplein.
    Vage krontjongklanken jammeren nostalgisch van hartepijn.
    Ach, waarom zou ik nu nog langer talmen

    De laatste maal, dat weet ik maar al te zeer.
    De laatste stad, het laatste huis.
    De laatste nacht onder het Zuiderkruis.
    Wie weet of ik hier ooit nog wederkeer.,
    ==============================
    Henk Anthonijsz (1926) zegt

    ######################################################################

    Terjemahan bebas:
    BANDOENG
    Terakhir kali saya melihat pohon-pohon kenari,
    dimana Preangerbergen berdiri sebagai menara pengawas.
    Yang menjadi siklus sepanjang jalan Papandajan
    apakah saya pernah akan datang kembali?

    Bandung, pikiran saya ragu
    Bogerijen, Braga, Observatorium Bosscha.
    Bintang berkilau di malam tropis teredam.
    Kembang Sepatoe, Melati, yang garis jalan.

    Bandung, kota pegunungan yang sejuk ketika saya muda
    'T Centrum, Dago, Lembang, Tjihampelas,
    'T Brorromeus- dan Julianaziekenhuis dimana banyak orang disembuhkan.
    St Berchmanschool, 't Christian Lyceum waasr,  Tempat saya bisa mengumpulkan pengetahuan.

    Bandung, di mana Anda dapat bermimpi pergi dalam fantasi
    Radio City, Varia, Luxor, Majestic, Oriental,
    Taman Tjibeuning, Tjioemboeloeit itu "Berg en Dal".
    Villa Isola tinggal koran raja.

    Bandung, di mana saya mengalami dan sangat beruntung,
    Savoy Homann, Grand Hotel Preanger, Pasar Baru Gedong Sate.
    Kunjungan ke danau dan kawah, perusahaan kina, karet dan teh.
    Dimana saya akan tetap menjaga kenangan dalam hidup saya.

    Bandung indah dihiasi dengan flamboyan, beringin, telapak tangan kerajaan.
    Insulinde, Maluku, Peter Park, Oranje, Tjitaroemplein.
    Krontjong merintih samar terdengar nostalgia sakit hati.
    Ah, mengapa saya harus menunda lagi

    Terakhir kali yang saya tahu hanya terlalu baik.
    Kota terakhir, rumah terakhir.
    Tadi malam di bawah Salib Selatan.
    Siapa tahu apakah aku akan pernah di sini kembali.,
    ==============================
    Henk Anthonijsz (1926) zegt






    Diposting oleh Poerwalaksana M.Djayasasmita
    Arsip BSC Updated pada: Minggu, September 20, 2015
    Poerwalaksana

    Poerwalaksana is a freelance web designer and developer with a passion for interaction design.

    Facebook Group: Bandung Social Community

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Puisi dari seorang Bandoengers (1926)....!!! Rating: 5 Reviewed By: Poerwalaksana M.Djayasasmita
    Scroll to Top