728x90 AdSpace

Arsip BSC
  • Berita Terbaru

    A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!!

    A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!!
    Atjoem Kasoem
    Ia anak desa asli. Nama kecilnya Acum  lahir di desa Kadungora di Priangan Timur pada tanggal 9 Januari 1918. Ia anak keempat dari tujuh bersaudara. Terdiri dari 5 lelaki dan 2 perempuan. 

    Bapaknya petani bernama Hasan Basri. Orangnya tegap ganteng. Kulitnya kuning langsat. Rambutnya hitam pekat. Walapun sinar matanya dilindungi oleh kacamata, namun masih tajam dan bersinar pandangannya. 

    Dan ini menunjukan, bahwa ia manusia yang keras hati. Kemauannya besar dan berkeinginan untuk menjadi orang besar yang akan terlukis di dalam sejarah kemajuan dan kebesaran bangsa.

    Namanya sampai kini masih populer di kalangan para mahasiswa pejoang di Kota Bandung. Ia mendapat nama julukan seorang dermawan yang sudi mengulurkan tangannya menolong para mahasiswa berada di dalam kesulitan. Ia senang kepada pemuda yang memiliki perasaan nasional yang tinggi. Cakap dan pintar pula di dalam kuliahnya. Berkemauan besar untuk menuntut ilmu yang akan diamalkannya kelak kepada nusa dan bangsanya.

    Ia pelopor dari suku Sunda dan bangsa Indonesia yang terjun berjuang di bidang pabrik kacamata (optic). Ia manusia Indonesia pertama yang ahli kacamata dan kini mendirikan pabrik optic di desanya sendiri pada tanggal 22 September 1974. Sejak berdiri pabrik optiknya itu, mengalir tawaran modal dari luar negeri untuk bekerkasama dengan Kasoem. 

    Tetapi sampai kini ia belum berniat bekerjasama dengan modal luar negeri, sebab hutangnya masih banyak kepada Bank Negara Indonesia 46 yang memberikannya kredit sebanyak Rp. 69 juta rupiah sebagai tambahan modal mendirika pabrik optiknya itu. Cita-citanya pabrik optiknya itu kelak di kemudian hari akan dapat memproduksi lensa potret, mikroskop, dan lain-lain demi untuk kebesaran nama nusa dan bangsa.

    Bangga atas Keahliannya
    Hingga kini ia merasa bangga atas keahlian dan kecakapannya membikin kacamata. Lebih-lebih keahliannya itu diamalkannya kepada perjoangan bangsanya untuk mempertahankan dan merebut kemerdekaan dari tangan-tangan penjajah Belanda. Betapakah akan tidak, ialah salah satunya bangsa Indonesia yang ahli di bidang itu. 

    Wakil Presiden Mohammad Hatta memanggilnya dan memerlukan keahliannya membantu perjuangan Indonesia. Kepada Kasoemlah yang dilimpahkan pemerintah kepercayaan untuk memelihara, memeriksa dan membikin kacamata untuk Presiden Soekarno, Wakil Presiden Hatta, Para Menteri, Jenderal, pembesar dan para pemimpin Republik. 

    Pun begitu rakyat banyak, baik pemuda pejoang, orang tua dan lain-lain. Kepada Kasoemlah dibebankan tanggungjawab supaya mata para pemimpin Indonesia dan rakyatnya tetap terang benderang di kancah peperangan dengan Belanda itu.

    Dahulu di zaman penjajahan Belanda pun di penjajahan Jepang hanya bangsa kulit putih yang ahli kacamata. Sekolahnya pun tidak ada. Tidak ada pula bangsa Indonesia yang berniat akan menuntut ilmu kacamata itu.  Sebab tidak ada gurunya.


    A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!!
    Mendapat Ilmu
    Kasoem secara kebetulan saja berkesempatan menuntut ilmu itu dari seorang ahli kacamata berbangsa Jerman. Orang itu bernama Kurt Schlosser dan membuka toko kacamata di Jalan Braga daerah pertokoan kelas satu di Bandung dulu.

    Tatkala bangsa Jerman menyerang negeri Belanda dalam tahun 1940, pada umumnya bangsa Indonesia berpendapat, bahwa Belanda pasti kalah di dalam peperangan itu. Dan sejak itu pecahlah peperangan dunia ke-II.

    Pemuda Kasoem mendekati toko kacamata Kurt Schlosser dan ingin bicara dengantuan itu. Setelah berjumpa, Kasoem mengatakan, bahwa di dalam peperangan Jerman dengan Belanda itu, sudah pasti bangsa JErman akan keluar sebagai pemenang. Dan Indonesia ini akan dikuasai oleh bangsa Jerman. Kasoem mengusulkan, apakah tidak mungkin bangsa Jerman akan menolong perjoangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan tanah airnya.

    Dengan kening dikerutkan dan memandang tajam wajah Kasoem, Kurt Schlosser mengeluarkan kata-kata : “Apa gunanya sama kalian kemerdekaan tanah air itu. Kenyataannya kini perekonomian di seluruh Indonesia dikuasai oleh bangsa Asing, baik orang kulit putih, Cina, India, Arab dan lain-lain. Percuma sama kalian merdeka itu, kalau perekonomiannya tidak dikuasai oleh pribumi.

    Termenung dan lemas badan Kasoem mendengarkan kata-kata Kurt Schlosser itu. Akalnya menerima keterangan itu. Memang begitu kenyataannya.

    Selanjutnya Kurt mengatakan, "Jika kamu mau merdeka juga, tuntutlah olehmu ilmu kacamata ini. Perusahaan ini dibutuhkan oleh manusia sepanjang masa. Sebab telah hukum alam, bahwa penglihatan manusia sesudah 40 tahun selalu kabur. Dan mereka membutuhkan kacamata. 

    Dengan ilmu ini, kamu akan dapat membesarkan nama bangsamu. Kamulah kelak akan menjadi raja kacamata satu-satunya di Indonesia. Tetapi, dengan hanya menguasai ilmu kacamata ini saja belum memadai untuk menjadi orang yang terhormat. 

    Kamu harus melatih dirimu ahli dan cakap pula menjualkannya kepada masyarakat ramai. ilmu dagatng tidak ada di sekolah dipelajari atau dituntut kepada orang lain. Kecakapan ini akan tumbuh berkat pengalaman, dan didorong oleh kemauan yang keras untuk merobah nasib. Ilmu dan pengalaman ini akan dapat kamu turunkan kelak kepaa anak cucumu”.

    Alhasil Kasoem menuntut ilmu membikin kacamata ini dan belajar dengan tekun secara teori dan praktek pada Kurt Schlosser.

    Siapa Kasoem
    Sejak ia Sekolah Dasar di kampungnya telah tertarik untuk menjadi orang yang dihormati oleh masyarakat ramai. Di zaman itu orang yang dihormati, ialah orang yang pandai berbahasa Belanda. Pamannya yang tamat sekolah guru (Kweekschool) dan anak-anaknya seluruhnya bersekolah Belanda. Mereka selalu disegani dan dihormati oleh seluruh anggota masyarakat kampungnya itu, jika datang berlibur. Kasoem berkeinginan pula masuk sekolah Belanda, supaya dihormati oleh orang kampung.

    Keinginannya ini tercapai, setelah ia lulus ujian memasuki Schakelschool, yang menerika murid-murid Sekolah Dasar kelas III yang maju ujian. Semasih duduk di bangku sekolah, ia telah tertarik dengan pidato Bung Karno yang mengobar-ngobarkan semangat untuk mencapai Indonesia Merdeka. Kasoem berkeinginan dan bercita-cita pula untuk menjadi pemimpin kelak di kemudian hari.

    Untuk mewujudkan cita-citanya ia masuk menjadi anggota perkumpulan yang bernama Indonesia Muda (IM) dalam tahun 1930. Sekolahnya dilanjutkan ke Taman Siswa, hingga tamat Taman Dewasa. Pengetahuannya ditambahnya dengan memasuki kursus dagang bernama Handelscursus.

    A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!!
    Berdagang Kacamata
    Berkat ketekunan, keuletan, kesungguhan dan kerajinannya, dalam waktu singkat dikuasainya ilmu membikin kacamata itu. 

    Atas petunjuk gurunya, ia latih dirinya berjualan kacamata dengan berjalan kaki, menjinjing tas berisi kacamata keluar masuk rumah orang.

    Denga tekun dan ulat diperluat daerah operasinya berjualan kacamata dengan berkeliling naik sepeda. Uang keuntungannya selalu disimpannya. Alhasil berhasil juga ia bertoko di Jalan Pungkur no. 97 di kota Bandung. Usahanya bertambah maju.

    Sejak pemerintahan militer Jepang berkuasan di Indonesia, perekonomian menjadi lumpuh. Barang dagangan seperti tekstil, kelontong dan lain-lain menghilang dari pasaran. Namun demikian Kasoem berhasrat untuk memiliki toko di Jalan Braga. Orang masih banyak yang memerlukan kacamata. Nama Kasoem makin lama makin terkenal karena ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang membuka usaha kacamata itu.

    Berhubung Kasoem telah kenal dengan Ki Hadjar Dewantara bapak perguruan Taman Siswa, pergilah ia mengunjunginya di Jakarta. Dibeberkannyalah keinginan dan maksudnya untuk membuka toko kacamata di Jalan Braga Bandung.

    Akhirnya pada bulan Mei 1943 Kasoem membuka toko kacamata di Jalan Braga Bandung. Kasoemlah salah satunya pelopor bangsa Indonesia dari suku Sunda bertoko di daerah pertokoan Braga. Selama ini, hanya orang Asing bertoko di sana.

    Ketika terjadi Peristiwa Bandung Lautan Api, pemuda A. Kasoem ikut pula berjuang menurut keahlian dan kecakapannya. Ia ikut dalam Palang Merah Indonesia dan mencari serta mengumpulkan senjata, lalu diberikannya kepada para pemuda pejuang. Kasoem mengungsi ke daerah Tasikmalaya. Di daerah Tasik ini ia kembali membuka toko kacamata.

    Awal tahun 1946 ia diminta oleh wakil Presiden M. Hatta supaya membuka praktek di kota Jogkakarta yang telah menjadi ibu kota Republik Indonesia.  Di sana ia membuka toko kacamata dan di daerah Klaten didirikannya pabrik penggosok kaca.

    Setelah kemerdekaan Indonesia diakui Belanda pada tanggal 29 Desember 1949, Pemerintahan Republik kembali ke Jakarta. Kasoem kembali ke kampung halamannya di kota Bandung. Dilihatnya tokonya di jalan Braga yang ditinggalkannya dulu telah diisi oleh pedagang Cina. 

    Ia minta tokonya itu kembali, tetapi tidak  dapat. Cina itu dengan gigih mempertahankan lewat kekuatan peraturan pemerintah penjajah Belanda yang menduduki Jawa Barat sejak tahun 1948. Peraturan itu bernama Hostotischerecht (hak sejarah), yang intinya mengembalikan kedudukan pedagang Cina seperti dulu kala.

    Bertahun-tahun Kasoem memeperjuangkan haknya itu. Alhasil pengadilan negeri di Bandung memutuskan, bahwa toko itu adalah hak Kasoem dan Cina itu harus mengosongkan dan mengembalikannya kepada Kasoem pada tanggal 5 Mei 1952. Sejak saat itu Kasoem bertoko kembali di sana dan sampai kini.

    A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!!
    Kasoem kasoem berikutnya
    Di alam Indonesia merdeka, usaha Kasoem berkembang pesat. Ia buka toko kacamata di Jakarta, Tasikmalaya, Yogyakarta, Cirebon. Kini di Jakarta saja telah 4 toko kacamata dibukanya di daerah pertokoan kelas satu.

    Selama ini bahan-bahan pembikin kacamata itu, seperti gagang dan kacanya dipesan dari luar negeri. Tetapi kini Kasoem berniat dan bermaksud akan membikin seluruhnya dalam negeri. Untuk itu Kasoem menuntut ilmu di negara Jerman pada tahun 1960.

    Pabrik optik milik Dr. Hermann Gebest di Jerman dapat menerimanya sebagai praktikan di dalam pabrik itu sambil menuntut ilmu secara teori dan praktek. Ia bekerja 14 jam sehari. Berkat tekun, sungguh-sungguh dan ia rajin bekerja sebagai sukarela, lambat laun Dr. Hermann tertarik kepada pribadi Kasoem.

    Pada suatu hari Kasoem dipanggilnya di kantornya. Katanya kepada Kasoem , “Ilmu pembikin kacamata ini tidak akan mungkin kamu kuasai haknya bekerja sebagai praktikan saja. Ilmu ini harus kamu pelajari sedalam-dalamnya. Dan ini akan tercapai, kalau saya sendiri memberikan pelajarannya kepadamu. Tetapi syaratnya kamu harus belajar dengan saya di rumah, sesudahnya jam bekerja di pabrik".

    Tawaran Dr. Hermann ini disambut dengan gembira oleh Kasoem. Dalam beberapa tahun saja dikuasainyalah ilmu memproduksi lensa dan gagang kacamata itu. Ia bercita-citakan akan mendirikan pabrik optik di Indonesia.

    Dengan modal sebanyak Rp. 69 juta dan ditambah dengan pinjaman dari Bank Negara Indonesia 1946, Kasoem memancangkan batu pertama pabrik optik di desanya Kadungora Leles dalam tahun 1969. Pembukaan resminya baru tanggal 23 September 1974. Dilakukan oleh Wakil Presiden Sri Sultan Hamengkubuwono ke-IX. Seluruh penduduk desa itu diundang makan.

    Para ahli pabriknya itu didatangkan dari Jerman. Dan gurunya sendiri Dr. Hermann Gebest menjadi penasehatnya.

    A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!!
    Sejak pabriknya itu menghasilkan produksinya, mengalirlah tawaran dari luar negeri untuk bekerjasama di bidang produksi optik itu. Tidak saja untuk membikin kacamata pun membikin lensa-lensa potret, mikroskop, dan lain-lain. 

    Tetapi Kasoem belum bersedia lagi bekerja sama. Alasannya Kasoem, bahwa hutangnya kepada bank masih banyak. ia berniat akan melunaskan hutangnya itu secepat mungkin. 

    Dan, jika modalnya telah mengizinkan ia akan melebarkan sayapnya memperbesar produksi. Setelah itu akan dipikirkannya tawaran dari luar negeri. Intinya, Kasoem berkeinginan, bahwa pabriknya dia pimpin sendiri dengan modalnya sendiri pula.

    Bagi Kasoem, biarlah pabrik itu kecil saja, tetapi milik sendiri. Apalah gunanya pangkat sebagai direktur tetapi tidak ada kekuasaan sedikitpun di pabrik itu. Telah menjadi tradisi ilmu optik itu diturunkan kepada anaknya. Pun begitu kasoem akan memberikan ilmunya kepada anak cucunya.

    Pada tanggal 16 Februari 1975 Kasoem diterima menjadi anggota ilmu pengetahuan optik Jerman Barat dengan nomor anggota 176. Ialah seorang Asia pertama yang diterima menjadi anggota…

    Diposting oleh Poerwalaksana M.Djayasasmita
    Arsip BSC Updated pada: Minggu, Februari 01, 2015
    Poerwalaksana

    Poerwalaksana is a freelance web designer and developer with a passion for interaction design.

    Facebook Group: Bandung Social Community

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: A Kasoem, Pelopor pabrik kacamata Indonesia....!!! Rating: 5 Reviewed By: Poerwalaksana M.Djayasasmita
    Scroll to Top