728x90 AdSpace

Arsip BSC
  • Berita Terbaru

    Kisah Munada Bandung Baheula....!!! (Bag. 4 - Tammat).

    Kisah Munada Bandung Baheula....!!! (Bag. 4).
    Pasar baru 1888

    Mendengar berita bahwa ada orang yang di per kirakan Munada di daerah tepi Citarum, lalu banyaklah orang mencari ke arah Citarum, Dayeuhkolot, dan Tarogong.

    Mereka menggeledah rumah-rumah, perkampungan, dan memeriksa hutan. 

    Pencarian terus berlangsung hingga ada seorang penduduk Tarogong yang bercerita bahwa orang yang mereka kejar itu bukanlah Munada, melainkan Raden Wiria, jurutulis Jaksa. Lalu dipertemukanlah Raden Wiria dengan pemilik perahu yang telah menyebrangkannya. Akhirnya Raden Wiria mengaku bahwa ia diperintah oleh Jaksa Mangunagara.

    Jaksa Mangunagara lalu ditangkap dan dibuang ke Surabaya. Tak ada berita ia pernah kembali ke Bandung. Asisten Residen yang baru, mengusulkan agar bupati diberhentikan dari jabatannya karena dengan anggapan ia ikut bersalah karena kerabatnya telah melakukan kejahatan. Bupati kemudian memang diberhentikan dan dipindahkan tempat tinggalnya ke Cianjur.

    Mengisi kekosongan jabatan bupati dan jaksa di Bandung, pemerintah menempatkan hoofdjaksa Purwakarta, Surialaga, di Bandung. Di sini ia menikah dengan R. Salimantri, seorang janda yang ternyata mantan istri Mangunagara. Dari Salimantri inilah ia mendapatkan keterangan tentang Munada yang masih misterius keberadaannya.

    Malam setelah penusukan Nagel, Munada tidak kembali ke rumahnya di Cibadak, melainkan disembunyikan di rumah Mangunagara di Kajaksan. Ia ditanya oleh Mangunagara, apakah akan menerima hukum gantung atau sebaiknya bunuh diri saja? Munada menjawab: “Kuring mah hanyang dipaehan ku Juragan Jaksa bae. (Biarlah saya dibunuh oleh Jaksa saja).”

    Sekitar tengah malam, Munada dimasukkan ke dalam sebuah peti besar. Lehernya diikat dengan tali. Setelah mati, ia digotong oleh empat orang dan dihanyutkan ke Sungai Ci Tarum.

    Selang beberapa waktu setelah kejadian itu, Surialaga menjadi seorang kaya di Bandung. Kenyataan ini membuat seorang dengan nama Istor Aban Sarean cemburu dan memfitnahnya. Akibatnya, Surialaga ditahan di Cianjur. Namun Surialaga berhasil meyakinkan gubernur jendral bahwa ia tidak bersalah. 

    Ia segera dibebaskan dan kembali dijadikan jaksa dengan tugas di Balitung. Istor Sarean dihukum. Upas Baron yang sembuh dari luka ternyata harus cacat seumur hidupnya, ia dipensiunkan dan diberi tunjangan. Jabatannya digantikan oleh anaknya.

    [1] Alur cerita utama berdasarkan Babad R.A.A. Martanagara; Aurora Drukkerij, 1923

    [2] “Wawacan Carios Munada” tulisan Mas Kartadinata. [Mengenai naskah ini, Kartadinata melakukan pengumpulan cerita dari orang-orang tua saat itu (1910)]. Informan utamanya adalah Raden Yudasastra, seorang tua yang tinggal di Desa Pungkur, di belakang Pendopo Bandung. Mas Kartadinatayang pernah menjabat Kepala Stasiun di Staatspoorwegen ini, lebih dikenal lewat karyanya, Rasiah Priangan (Bale Poestaka, 1921)

    TAMMAT.





    Diposting oleh Poerwalaksana
    Arsip BSC Updated pada: Jumat, September 20, 2013
    Poerwalaksana

    Poerwalaksana is a freelance web designer and developer with a passion for interaction design.

    Facebook Group: Bandung Social Community

    • Blogger Comments
    • Facebook Comments

    0 komentar:

    Posting Komentar

    Item Reviewed: Kisah Munada Bandung Baheula....!!! (Bag. 4 - Tammat). Rating: 5 Reviewed By: Poerwalaksana
    Scroll to Top